Kisah “Detektif” Melacak Kasus Virus Corona

eye21 20 January 2021 0 Comments

Tidak hanya kasus perselingkuhan saja, namun kasus virus corona juga menjadi sorotan di beberapa negara. Bahkan dibentuk sebuah tim khusus untuk melacak kasus tersebut. Mereka bagaikan seorang detektif melacak kasus virus corona yang menyebar begitu cepat.

Conceicao Edwin Philip adalah salah satu dari tiga pelacak kontak di Singapore General Hospital yang merupakan salah satu rumah sakit pemerintah yang menjadi rujukan untuk merawat pasien virus corona. Timnya adalah orang pertama yang berbicara dengan pasien ketika mereka datang ke rumah sakit, untuk mencari tahu dengan siapa mereka telah berhubungan dan di mana mereka berada.

“Setelah kami mendapatkan hasil dari laboratorium [dari kasus positif] kami harus meninggalkan semua pekerjaan dan bekerja sepanjang malam sampai sekitar jam 3 pagi. Keesokan harinya, kami mulai bekerja lagi,” katanya.

Mereka menyerahkan informasi penting itu kepada staf di Departemen Kesehatan yang melanjutkan prosesnya.

“Tanpa potongan pertama informasi ini, tidak ada yang bisa dihubungkan. Ini seperti teka-teki, Anda harus menyatukan semuanya,” katanya.

Zubaidah Said memimpin salah satu tim Kementerian Kesehatan yang ditugaskan untuk pekerjaan berikutnya. Sering kali timnya menghadapi tantangan untuk mengumpulkan informasi – beberapa pasien terlalu sakit untuk menjawab, misalnya, dan itu membuat pekerjaan mereka jauh lebih sulit.

“Sejauh mungkin untuk kasus-kasus seperti itu, kami akan mencoba untuk mendapatkan informasi kedua, tetapi sekali lagi itu sulit,” katanya.

Di situlah tim selanjutnya bekerja, karena Singapura juga memiliki keuntungan dengan melibatkan unit investigasi kriminal polisi dalam kasus ini.

“Polisi dan kementerian mengadakan telekonferensi setiap hari untuk bertukar informasi,” kata asisten komisaris senior (SAC) polisi Lian Ghim Hua, dari Departemen Investigasi Kriminal kepada BBC melalui email.

“Rata-rata 30 hingga 50 petugas bekerja untuk melacak kontak pada satu periode dan jumlahnya pernah meningkat hingga lebih dari 100 petugas.”

Pelacakan kontak menjadi prioritas kepolisian – sesuatu yang dimungkinkan karena tingkat kejahatan di Singapura yang rendah.

Kadang-kadang petugas juga mendapat bantuan dari departemen investigasi kriminal, biro narkotika, dan dinas intelijen polisi.

Mereka menggunakan rekaman CCTV, visualisasi data dan investigasi untuk membantu mereka melacak kontak yang identitasnya tidak diketahui, misalnya penumpang taksi yang tidak melakukan pemesanan aplikasi, atau membayar dengan uang tunai.

Bukti efektivitas langkah ini terlihat dari kasus Julie. Ia pergi ke rumah sakit dengan keluhan pusing dan demam pada awal Februari. Kurang dari satu jam dari saat para dokter menyatakan dia terinfeksi virus itu, sistem itu langsung berjalan.

“Saya sedang terbaring di ranjang rumah sakit ketika saya ditelpon,” kata Julie. Yang terjadi selanjutnya adalah sejumlah pertanyaan cermat tentang semua yang telah dilakukan Julie dan semua orang yang dia temui selama tujuh hari terakhir.

“Mereka ingin tahu saya bertemu dengan siapa, apa yang saya lakukan, siapa nama mereka dan nomor kontak mereka.

Pihak berwenang mencari kontak dekat, biasanya seseorang yang menghabiskan lebih dari 30 menit dengan orang yang terinfeksi, dalam jarak 2m.

“Mereka tidak tertarik untuk mengetahui orang-orang yang berpapasan dengan saya, walaupun itu orang yang saya kenal. Mereka mencari orang-orang yang menghabiskan beberapa waktu denganku.”

Julie berbicara dengan pelacak kontak selama hampir tiga jam. Di akhir panggilan telepon itu, dia telah mengidentifikasi 50 orang. Semua dihubungi oleh Kementerian Kesehatan, dan mereka pun menjalani karantina selama 14 hari. Namun tidak ada satupun dari mereka yang menunjukkan gejala virus itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Call Now ButtonCall Detective